Yang Tersisa di Menteng Raya

Ada kedamaian yang pelan-pelan menguasai hati saya, saat siang yang cerah itu saya dan sekitar tiga puluh teman dari komunitas Ngopi Jakarta berjalan-jalan di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

Selama ini saya sering berkhayal, betapa menyenangkan seandainya bisa melakukan perjalanan ke masa silam. Menyapa mereka yang hidup di zaman itu dan melihat dunia sebagaimana mereka melihatnya. Merasakan sendiri menjadi rakyat dari sebuah bangsa yang belum memiliki nama.

Dan di kawasan yang menyimpan banyak kenangan sejarah siang itu, saya membayangkan menjadi musafir dari masa depan yang jauh. Saya menyaksikan dari dekat kesederhanaan orang-orang zaman itu dan menebak-nebak apa yang sulit mereka percaya seandainya berkunjung ke masa kini.

***

Saya kadang merasa beruntung hidup di zaman modern. Terima kasih pada teknologi yang memberikan kemudahan dalam banyak hal; dari blender sampai printer, dari ATM sampai GPS. Benda-benda yang sudah menjadi bagian hidup kita dan mungkin tak terbayangkan oleh mereka yang hidup satu abad sebelumnya.

Namun, berjalan di kawasan yang dulu merupakan hunian para bangsawan dan orang-orang penting di zaman Hindia-Belanda itu memantik tanya di benak saya: benarkah kita, yang seakan tak bisa membebaskan diri dari teknologi ini, lebih beruntung ketimbang mereka yang terlahir lebih dulu?

Kemajuan teknologi memang membuat hidup kita saat ini terasa lebih mudah dibandingkan hidup orang-orang seabad yang lalu. Tapi, bukankah setiap zaman memiliki tantangannya sendiri dan setiap kita, kapan pun masa hidup kita, akan berhadapan dengan tantangan-tantangan itu?

Kakek-buyut kita mungkin tak pernah merasakan nyamannya duduk di dalam mobil ber-AC, serunya menonton film di televisi, atau mudahnya bertegur sapa menggunakan handphone. Tapi, mereka juga tak pernah pusing dengan angsuran kendaraan, tagihan listrik, atau tarif internet.

Pembangunan fisik sebuah kota, yang biasanya berkelindan dengan kemajuan teknologi, juga diyakini memberikan kemudahan bagi manusia modern. Ironisnya, hal itu kadang dilakukan dengan menghancurkan bangunan yang lebih dulu ada. Menyusuri Jalan Cilacap, Setu Lembang, Taman Suropati, dan bertamu di kediaman Alm. Roeslan Abdulgani serta Romo Adolf Heuken mengonfirmasi hal itu.

Hanya sedikit saksi bisu sejarah masa lalu yang bisa kita temukan di tempat-tempat itu. The Hermitage yang terletak di Jalan Cilacap, yang dulu merupakan kantor telekomunikasi Belanda bernama Telefoongebouw, hampir-hampir tak ada bedanya dengan hotel lain yang dibangun belakangan ini.

Setu Lembang dan Taman Suropati juga sama. Mungkin tak ada bedanya dengan taman-taman lain yang baru dibangun oleh Ahok. Kalau ada satu atau dua sentuhan masa lalu yang masih tersisa di sana (meski saya tak tahu itu apa), jelas itu tak cukup untuk menghadirkan suasana tempo doeloe.

Kesan yang berbeda saya rasakan saat berkunjung ke kediaman Alm. Roeslan Abdulgani dan Romo Adolf Heuken. Selain bangunan rumahnya yang masih memberikan nuansa era 60 atau 70-an, berbincang-bincang dengan para tuan rumah juga membuka mata saya tentang apa yang pernah terjadi di masa silam dan, sebagai perbandingan, apa yang tengah berubah saat ini.

Saya bisa merasakan sisa-sisa keindahan di dua rumah itu, bahkan saat baru menginjakkan kaki di halamannya. Tapi, itu tak berselang lama. Keluh kesah Romo Heuken tentang Jakarta yang semakin bising dan tetangga-tetangga barunya yang masa bodoh dengan keaslian arsitektur rumah zaman dulu membuat saya lupa dengan suasana rumahnya yang teduh dan tenang.

Saya bisa saja menuliskan sederet kekecewaan di sini, sampai saya kehabisan waktu bahkan untuk mengingat sisa-sisa keindahan masa lalu di Kota Taman itu. Tapi, satu yang saya syukuri. Di ujung perjalanan kami siang itu, sebuah gedung tua menjadi penutup yang sempurna.

Gedung itu adalah Kunstkring Art Gallery, sebuah bangunan yang berdiri tahun 1914 dan didesain oleh P.A.J. Moojen. Gedung tersebut pernah menjadi kantor imigrasi Jakarta Pusat (1950-1997) dan sebelumnya kantor pusat Majelis Islam A’la Indonesia (1942-1945), cikal bakal Masyumi.

Kalau kita pernah menonton Sang Kyai, sebuah film tentang sejarah perjuangan KH. Hasyim Asy’ari (kakek Gus Dur), kita melihat adegan para kyai berdiskusi dengan pemerintah pendudukan Jepang di tempat itu. Keputusan-keputusan para ulama dalam forum tersebut selanjutnya turut membuka jalan bagi kemerdekaan Indonesia.

Berada di dalam Kunstkring Art Gallery seperti berada di suatu tempat yang memisahkan hari ini dan masa lalu. Kita bisa menjadi diri sendiri, seorang manusia modern dengan pola pikir dan gaya hidup yang kekinian. Pada saat yang sama, kita juga bisa menengok sejenak hari-hari yang telah lalu, bukan untuk menetap di sana tapi sekadar mengambil pelajaran darinya.

Apa yang berubah di kawasan Menteng kurang lebih sama dengan yang terjadi di banyak tempat lain di Jakarta (dan Indonesia). Sebagian orang menganggapnya sebagai konsekuensi perkembangan zaman, sebagian yang lain melihatnya sebagai sebuah ironi. Ironi dari sebuah bangsa yang terus membanggakan identitas dirinya tapi pada saat yang sama melupakan sejarah masa lalunya.

Padahal, hanya mereka yang mau menghargai masa lalunya yang mampu membangun masa depannya, bukan?

*Artikel ini adalah bagian dari kumpulan tulisan di buku “Ngopi (di) Jakarta”

Advertisements

Sorban Merah

Kyai Fatah bukan tidak tahu kalau yang mencuri mangga di kebunnya adalah santri-santrinya sendiri. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk menangkap basah mereka.

Beberapa kali saat tengah malam Kyai Fatah memergoki anak-anak itu beraksi. Tapi karena usia yang sudah kepala enam, langkahnya kalah cepat. Bahkan untuk melihat wajah mereka ia terlambat.

Suatu malam sepulang ceramah di desa tetangga, Kyai Fatah mendengar suara berisik dari kebun di belakang rumahnya. Suara itu berasal dari ranting-ranting yang terinjak dan buah mangga yang berjatuhan.Tanda maling-maling sedang menjalankan aksinya.

Sambil memanggil Gus Tamam anak bungsunya, Kyai Fatah membuka pintu. Tapi karena yang dipanggil tak juga keluar kamar, ia melangkah sendiri ke belakang rumah, menyalakan senter, dan mengarahkan pada pohon-pohon mangganya.

Tak ada orang. Maling-maling kecil itu seperti punya pertanda kalau kyai mereka sebentar lagi datang.

Kyai Fatah sebenarnya bukan orang yang pelit. Ia malah terkenal sangat dermawan. Pesantrennya yang sederhana tak memungut sepeser pun dari para santri. Bahkan untuk makan mereka, ia sendiri yang menanggungnya.

Kebun mangga itu adalah satu dari sedikit yang dimiliki Kyai Fatah, selain sawah dan ladang sayuran. Dengan beberapa petak tanah itulah ia membiayai hidup keluarga dan santri-santrinya, yang total berjumlah lima puluhan anak. Ia enggan meniru kyai lain membuat proposal bantuan kepada pemerintah.

“Malu,” jawabnya saat ditanya sang istri tentang alasannya. Entah malu pada siapa.

Ketika panen padi atau sayuran tiba, ia akan mengerahkan santri-santrinya ikut bekerja. Tapi itu tidak berlaku saat mangga-mangganya mulai ranum dan Cak Tikno, tengkulak mangga di desa itu, sepakat membeli. Ia lebih suka mengupahi tetangga untuk mengunduhnya.

Memasrahkan mangga-mangga itu kepada para santri sama saja menyuruh mereka menggarong hasil kebunnya. Bagi anak-anak yang kebanyakan dari keluarga kurang mampu itu, mangga memang semacam buah surga yang tak mudah didapatkan.

Dulu Kyai Fatah tak keberatan santri-santri itu mengambil satu atau dua buah mangganya, sebagai ganti jajan. Tapi dasar anak-anak itu kelewatan. Jangankan berterima kasih, tahu diri saja tidak. Kyai Fatah bahkan pernah memergoki mereka mengunduh sampai sekarung buah-buah itu, lalu diam-diam menjualnya ke Cak Tikno.

Kalau ada walisantri datang dan menitipkan anak, Kyai Fatah dengan senang hati membuka tangannya. Tak peduli orang baik-baik atau mantan bajingan. Itu mengapa santrinya bermacam-macam. Ada yang pandai dan pendiam, ada juga yang suka mencuri dan tukang kelahi.

Kalau pesantren lain mirip salon mobil, tempat mobil-mobil mewah disulap menjadi semakin indah, pesantren Kyai Fatah lebih mirip bengkel vespa butut. Santri-santri yang baik memang ada, tapi jumlahnya tak seberapa. Sisanya adalah santri-santri yang kelakuannya naudzubillah.

Sadam yang berasal dari Bangkalan pernah mencuri burung tetangganya yang sedang dijemur, melarikannya ke pasar, lalu menjualnya dengan harga murah, sesangkar-sangkarnya. Munir, yang giginya rompal gara-gara jatuh saat mau kabur demi menonton drum band, pernah membuat geger kampungnya karena kedapatan membawa kabur karpet musala.

Kyai Fatah seperti tak sampai hati menolak orangtua mereka saat menyampaikan niat hendak memondokkan anaknya. Mungkin sebagai kyai ia merasa tak boleh pilih-pilih. Mungkin juga karena ia punya alasan yang sangat pribadi.

Ada yang bilang saat remaja Kyai Fatah tak kurang nakal dibanding santri-santrinya sekarang. Bahkan kakeknya yang sudah kewalahan sampai tega mengirimnya ke sebuah pesantren terpencil di Pasuruan. Maklum, Kyai Fatah sudah yatim-piatu sejak kecil.

Maka, setiap ada orang menggelandang anaknya ke pesantren, Kyai Fatah bisa menebak maksud kedatangannya. Dan meski orang itu mengeluh betapa kebandelan si anak seperti titisan entah setan mana, tak pernah sekali pun Kyai Fatah menolak.

Ia selalu terkenang masa remajanya, juga budi baik kyainya yang telah mendidiknya, dari biang onar menjadi kyai pesantren seperti sekarang.

***

Malam itu Kyai Fatah tak berkecil hati. Sebab di antara daun-daun mangga yang berjatuhan, sebuah sorban merah nan kumal ia temukan. Sekilas ia merasa mengenalinya, tapi entah siapa yang pernah memakainya.

Maling-maling kecil itu agaknya terburu-buru kabur saat mendengarnya melangkah keluar rumah.

“Kena kalian sekarang!” gumamnya.

Tinggal mencari siapa pemilik sorban itu, akan ketahuan anak yang tadi mencuri mangga-mangganya.

Keesokan harinya saat pengajian tafsir, sorban tersebut ia perlihatkan kepada santri-santri. Dengan suaranya yang datar dan tertahan, ia umumkan agar siapa pun yang memilikinya silakan menghadap selepas pengajian.

“Ambil sendiri di rumah!” ujar beliau.

Santri-santri hanya menunduk. Gus Tamam yang dipercaya menjadi kepala keamanan ikut memandang satu persatu mereka. Badannya yang gemuk tak lagi lucu. Mungkin karena ikut marah.

Begitu pengajian usai tak satu pun santri berani menghadap. Semua seperti tidak mau tahu dengan sorban merah itu. Kyai Fatah curiga. Jangan-jangan mereka sengaja menutup mulut untuk melindungi si empunya barang.

Sehari, dua hari, sampai satu minggu tak ada santri yang mau mengaku. Padahal setiap mengaji tafsir Kyai Fatah membawanya dan meletakkan di dekat tempat duduknya. Ia pun tak lelah mengingatkan agar pemiliknya segera menghadap.

“Berani berbuat, berani bertanggung jawab,” ujarnya.

Kalimat tersebut membuat santri-santri yang selama itu bingung menjadi mafhum, mengapa kyai mereka sangat ingin si pemilik mengambil sendiri sorbannya. Ternyata kegelisahannya bukan hanya tentang siapa pemiliknya tapi juga apa yang sudah diperbuatnya.

Dua bulan berselang sejak Kyai Fatah menemukan sorban tak bertuan itu. Selama itu pula rasa penasarannya terhadap si pemilik semakin luntur. Ia sudah tak pernah menyinggungnya, apalagi membawanya saat mengaji. Santri-santri pun tak lagi mengingatnya.

Hingga suatu siang saat jumatan, Kyai Fatah melihat seorang santri di barisan paling belakang di teras masjid mengenakan sorban merah itu. Ia terperanjat. Siapa anak kurang ajar itu? Berani-beraninya mengambil sorban merah yang ia simpan, tanpa izin pula!

Kyai Fatah tak bisa berbuat banyak karena sedang menyampaikan khutbah. Itu pun beberapa kali konsentrasinya buyar karena matanya yang tengah membaca catatan bolak-balik memandang si anak bersorban merah. Ia berusaha mengenalinya, tapi sia-sia. Jarak yang jauh membuat matanya tak leluasa melihat.

Kyai Fatah yakin dirinya tak mungkin salah. Setelah berminggu-minggu membawa sorban itu ke pengajian, ia jadi hafal dengannya. Warnanya, bahannya, motifnya.

Begitu salat Jumat selesai, anak yang memakai sorban merah itu tiba-tiba menghilang. Seperti lenyap begitu saja. Padahal Kyai Fatah sudah memangkas wirid dan doanya. Ia pun tergopoh-gopoh menuju teras masjid dan mencarinya. Tapi nihil.

Sambil menahan kecewa Kyai Fatah melangkah ke rumahnya, yang terletak persis di sebelah masjid itu. Begitu sudah di dalam, ia empaskan badannya ke kursi ruang tamu, sebelum kemudian beranjak ke meja makan.

Saat itulah, persis setelah ia menyibak kelambu yang menutup pintu dapurnya, benda sialan yang dua bulan lebih membuatnya penasaran tertangkap kedua matanya. Tergeletak begitu saja di sandaran kursi meja makan.

Di dekatnya, sambil mengangkat sebelah kaki, Gus Tamam tampak sangat menikmati makan siangnya. Keringat yang mengucur di dahi dan lehernya ia abaikan. Mulutnya yang tengah mengunyah nasi seolah tak bisa berhenti.

Saat menyadari abahnya mendekat dan menarik pelan sorban merah yang dipakainya saat jumatan, Gus Tamam baru memperbaiki duduknya. Lalu kembali menyorongkan suap demi suap nasi ke dalam mulutnya.

“Makan, Bah!” ajaknya, sambil terus mengunyah.

November, 2018

*Cerita pendek ini dimuat di Majalah Risalah NU edisi Februari 2019